Mutiara Kata

Kegagalan biasanya merupakan langkah awal menuju sukses, tapi sukses itu sendiri sesungguhnya baru merupakan jalan tak berketentuan menuju puncak sukses *** Di masa muda kita belajar, di masa tua kita mengerti *** Jika air jalinan cinta kita berbeda, Air kita tetap menetes dari awan yang sama, Atau jika nasab kita yang berbeda, Kita disatukan oleh agama Yang kita dudukkan laksana orang tua. Jika pertemuan di dunia itu sudah bermakna, Maka di padang makhsyar pun kita akan berjumpa, Engkau persaudarakan kami di atas cinta kepada Allah, Harta benda tidak akan mempengaruhi persaudaraan ini, (Dr. A’idh Al […]

Saturday, May 29, 2004

rindu

malam semakin larut ketika para pencari nafkah kembali ke barak mereka. deru suara mesin yang membawa mereka dari ketinggian sudah mulai hilang. aku melangkah dengan gontai menuju kantor yang tak jauh dari terminal kedatangan. hujan rintik yang 2 hari terakhir memeriahkan suasana alam menambah indahnya hari ini, namun aku tak merasakannya. aku terlalu rapuh dengan keadaanku sekarang. wajah itu selalu muncul dalam perjalanan tidurku. tak pernah aku merasa nyenyak dalam tidurku. aku sadar bahwa ini keterlaluan, namun harus bagaimana aku sudah tidak mampu lagi medongakkan kepalaku melihat gambar itu. gambar yang selalu membuat mimpi-mimpiku terkubur. haah... aku semakin larut dalam kerapuhanku. sebenarnya apa yang aku cari di muka bumi ini... tidak ada selain keridoannya. ya... ridho dari Tuhan. kepada-Nya seharusnya kita kembali... Ampuni Hambamu yang lupa akan diriMU. yang terlalu banyak meminta tanpa pernah berbuat.
kepada MU aku lapangkan hatiku dan ikhlaskan diriku...
** amiin **

Friday, May 21, 2004

kunang-kunang

Kunang-kunang kau bersinar digelap malam tanpa pernah tau untuk siapa. Begitu tulus pemberianmu sehingga dirimu sendiri tak mengetahui apa yang telah kamu berikan. Masih adakah jiwa yang tulus seperti mu?

Thursday, May 20, 2004

lepaskan....

Laskar-laskar istanaku berlari menyusuri indahnya taman kerajaan. Menyeruak di balik benteng keangkuhanku. Mereka bagai busur panah yang menembus daging hati. Merobek bagian terdalam dari diri. Menyisakan airmata dan derita. Sementara putri-putri menangisi diri mereka yang terkapar di atas singgasana kemegahan dan permadani. Menanti sang pangeran yang akan datang mengangkatnya. Semakin hari, semakin ia menangis. Tak tau kemana lagi ia akan berlindung. Lepaskan, lepaskanlah diri dan sanubari mu, meninggalkan kenangan yang indah. Tak ada apa yang akan tersisa selain kepedihan dan kebebasan jiwa.
Lepaskan dan jangan pernah kau harap lagi...

Sunday, May 02, 2004

kuda putih....

Musim semi menghamparkan ladang-ladang dengan rumput hijau berseri. Alam seakan takjub dengan keajaiban ini. Binatang bersorak-sorai dengan penuh cita, kupu-kupu mulai menetaskan kepompong mereka. Anak petani terlihat santai dengan gembalanya. Kehidupan yang begitu hebat, yang akan segera berganti dengan musim panas.
Aku sendiri menatap kearah gunung yang mulai meregangkan sendi-sendi tubuhnya yang kekar. Menampakkan guratan-guratan keletihan setelah sebelumnya diselimuti salju nan dingin. Pohon-pohon pinus berteriak lantang mengumandangkan pujian kepada penciptanya. Sebagai rasa syukur atas nikmat yang diberikan. Anak perawan desa berlari menuju sungai yang jernih dan penuh kesejukan, bermain dengan air yang setia mengalir tanpa berharap tuk kembali.
Aku tertegun dengan keikhlasan setiap alam ini, apakah aku sudah mampu seperti mereka? pertanyaan yang seharusnya tidak perlu aku jawab. Aku harus berbuat sesuatu yang bisa orang lain dapatkan tanpa harus aku berharap sesuatu. Hidupku yang penuh kemunafikan yang telah ada pada diriku tak dapat aku hilangkan begitu saja. Kemana aku harus berlari dari diri ku sendiri agar terbebas dari semua ini. Wahai Tuhan ku tunjukkan diriku sebuah jalan yang penuh dengan berkah Mu. Jalan yang selalu Engkau karuniakan di dalamnya kebaikan dan kesempurnaan hidup. Teteskan kepadaku secercah hidayah agar aku bisa melihat jalan-Mu. Aku begitu lupa akan diriku, perbuatanku tak lagi mampu memberiku arti. Yang tersisa tinggal penyesalan, penyesalan yang tak mungkin aku kembalikan. Seperti kuda yang terlahir hitam dengan bulu-bulu yang mengkilap tak akan mampu berubah menjadi seekor kuda putih....

Saturday, May 01, 2004

bimbang

Ku buka lembaran di otak-ku dan kucoba menorehkan tinta emas. Berharap akan terjadi perubahan dalam takdirku. Setiap malam ku terjaga bersama bayang-bayang dirimu. Namun tak satupun dapat aku tangkap. Begitu jauh dirimu meninggalkan ku. Aku tak sanggup mengejar bayang-bayang diriku yang selalu mendahuluiku.
Tak terhitung berapa kali aku menyebut namamu, dalam ketiadaan daya dan kemiskinan jiwa. Emosiku hilang berbaur dengan perihnya sobekan hati ini. Darahku kental, hitam dan berdesir ketika mengingat akan-mu. Begitu dahsyat guncangan yang aku alami sehingga tak sanggup lagi aku menengadahkan kepala melihat indahnya langit biru. Langit yang selalu ceria dan awan yang selalu bermain-main dengan angin.
Kucoba kembali kepada diriku sebenarnya dengan kencana ingatan..... ingatkah aku pada kejamnya kehidupan, kepada raja yang memenggal sang penghianat, kepada para pecinta sejati?
Aku terus tersenyum kepada orang disekitarku, kepada roda-roda pedati petani bahkan pada setiap binatang yang meneriaki-ku. Aku tersenyum, ikhlas, tulus dan akan tetap tersenyum.....