Musim semi menghamparkan ladang-ladang dengan rumput hijau berseri. Alam seakan takjub dengan keajaiban ini. Binatang bersorak-sorai dengan penuh cita, kupu-kupu mulai menetaskan kepompong mereka. Anak petani terlihat santai dengan gembalanya. Kehidupan yang begitu hebat, yang akan segera berganti dengan musim panas.
Aku sendiri menatap kearah gunung yang mulai meregangkan sendi-sendi tubuhnya yang kekar. Menampakkan guratan-guratan keletihan setelah sebelumnya diselimuti salju nan dingin. Pohon-pohon pinus berteriak lantang mengumandangkan pujian kepada penciptanya. Sebagai rasa syukur atas nikmat yang diberikan. Anak perawan desa berlari menuju sungai yang jernih dan penuh kesejukan, bermain dengan air yang setia mengalir tanpa berharap tuk kembali.
Aku tertegun dengan keikhlasan setiap alam ini, apakah aku sudah mampu seperti mereka? pertanyaan yang seharusnya tidak perlu aku jawab. Aku harus berbuat sesuatu yang bisa orang lain dapatkan tanpa harus aku berharap sesuatu. Hidupku yang penuh kemunafikan yang telah ada pada diriku tak dapat aku hilangkan begitu saja. Kemana aku harus berlari dari diri ku sendiri agar terbebas dari semua ini. Wahai Tuhan ku tunjukkan diriku sebuah jalan yang penuh dengan berkah Mu. Jalan yang selalu Engkau karuniakan di dalamnya kebaikan dan kesempurnaan hidup. Teteskan kepadaku secercah hidayah agar aku bisa melihat jalan-Mu. Aku begitu lupa akan diriku, perbuatanku tak lagi mampu memberiku arti. Yang tersisa tinggal penyesalan, penyesalan yang tak mungkin aku kembalikan. Seperti kuda yang terlahir hitam dengan bulu-bulu yang mengkilap tak akan mampu berubah menjadi seekor kuda putih....
Mutiara Kata
Sunday, May 02, 2004
Subscribe to:
Post Comments (Atom)

No comments:
Post a Comment